Hari Sebelumnya
April 16
Baca II Samuel 15, 16
Setelah membunuh kakaknya, Absalom berpikir bahwa sekarang ia akan mewarisi takhta Daud. Namun, untuk menghindari tuduhan orang banyak, ia melarikan diri ke Aram, negeri ibunya untuk tinggal dengan kakeknya yang adalah raja pada waktu itu. Setelah Absalom berada dalam pengasingan selama tiga tahun (II Samuel 13:8-38), Yoab, kepala pasukan Daud mengatur siasat bagi kepulangan Absalom.
Kira-kira dua tahun setelah Absalom kembali dari pengasingan, ia memulai siasatnya yang ambisius, serakah dan jahat untuk mengambil alih takhta kedudukan ayahnya: Absalom menyediakan baginya sebuah kereta serta kuda dan lima puluh orang yang berlari di depannya. Maka setiap pagi berdirilah Absalom di tepi jalan yang menuju pintu gerbang - yang merupakan pintu masuk ke dalam kota yang juga sering digunakan sebagai pelataran pengadilan sesuatu perkara (15:1-2). Pasukan pribadinya membuatnya sedemikian rupa sehingga ia kelihatan seperti pewaris takhta kerajaan. Ia berpura-pura menunjukkan keprihatinan yang dalam terhadap setiap orang yang mempunyai perkara dan yang mau masuk menghadap raja untuk diadili perkaranya, ... maka berkatalah Absalom kepadanya: lihat, perkaramu itu baik dan benar, tetapi dari pihak raja tidak seorangpun yang mau mendengarkan engkau ... Sekiranya aku diangkat menjadi hakim di negeri ini! Maka setiap orang yang mempunyai perkara atau pertikaian hukum boleh datang kepadaku dan aku akan menyelesaikan perkaranya dengan adil (15:2-4).Tak mengherankan bila di seluruh Israel tidak ada yang begitu dipuji kecantikannya seperti Absalom (14:25). Menyedihkan untuk membaca bahwa hati orang Israel telah condong kepada Absalom (15:13).
Pengkhianatan terselubung Absalom terungkap setelah ia meminta izin dari Daud, ayahnya untuk beribadah di Hebron, kota kelahiran Absalom, dengan mengatakan bahwa ia telah bersumpah ketika ia berada di Aram bahwa jika Tuhan sungguh-sungguh memulangkan aku ke Yerusalem, maka akau akan beribadah (mempersembahkan korban) kepada Tuhan (15:8) . Hal ini tentu membuat hati Daud senang; namun maksud Absalom yang sebenarnya adalah untuk merencanakan dan mengatur suatu pemberontakan terhadap ayahnya sendiri.
Tak lama kemudian tersebar kepada seluruh suku bahwa Absalom sudah menjadi raja di Hebron (15:10). Bahkan Ahitofel, penasihat kepercayaan Daud juga ikut dalam persekongkolan itu.
Daud tetap menyerah kepada kekuasaan Allah dalam mengatur segala perkara dalam kehidupan dan ia berkata kepada imam Zadok: Jika aku mendapat kasih karunia di mata Tuhan, maka Ia akan mengizinkan aku kembali .... biarlah dilakukanNya kepadaku apa yang baik di mataNya (15:25-26). Ia tidak menuntut haknya dan iapun tidak pernah berpikir untuk melakukan pembalasan atau dikuasai oleh kekecewaan. Daud berserah dan yakin penuh bahwa segala sesuatu ada di bawah kendali Tuhan dan apa yang Ia izinkan terjadi akan membawa kebaikan.
Menyedihkan untuk melihat Raja Daud yang hancur hatinya, kira-kira pada usia 65 tahun, harus meninggalkan Yerusalem dalam ketakutan terhadap anaknya yang dikasihinya itu - ia berjalan dengan kaki telanjang menelusuri perbukitan yang terjal dan berbatu menuju anak sungai Kidron dan mendaki Bukit Zaitun dengan kepala tertutup sambil menangis (15:30).
Sambil menyerahkan dirinya kepada pemeliharaan Allah, Daud berdoa: Gagalkanlah kiranya nasihat Ahitofel itu, ya Tuhan (15:31). Kemudian, ia menyuruh Husai kembali ke Yerusalem dengan dibekali petunjuk-petunjuk tentang bagaimana ia dapat menjadi penasihat Absalom untuk menggagalkan nasihat Ahitofel (15:33-35).
Daud kemudian menuruni lembah pegunungan Zaitun ke arah barat, menyeberangi sungai Yordan, dan akhirnya tiba di Moab, negeri dari Rut, moyang neneknya yang adalah seorang Moab.
Melalui pengalaman pahit ini, Daud tidak menunjukkan kepahitan atau sikap menyalahkan terhadap orang-orang yang telah mengkhianatinya. Mereka yang setia kepada Allah menyadari bahwa orang-orang yang jahat sering digunakan sebagai alat di tangan Bapa Sorgawi yang penuh kasih untuk memperbaiki atau menghajar mereka yang Ia kasihi. Daud menyadari hal ini dan kemudian ia mengaku: Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi aku sekarang berpegang pada janjiMu (Mazmur 119:67).
Kristus Dinyatakan:
Melalui Daud ketika ia menegur para pengikutnya pada saat mereka mau membantai para musuhnya (II Samuel 16:10-11; bandingkan I Sam. 26:8-9; Lukas 9:54-56).